Filed under: Religi
Mirza Ghulam Ahmad, Kematian yang Menjijikkan
11 Juni 2008
Hartono Ahmad jaiz pernah bertanya kepada Dr. Hasan bin Mahmud Audah, mantan orang kepercayaan Khalifah Ahmadiyah ke-4 Thahir Ahmad, yang sudah kembali ke Islam. “Apakah benar, nabinya orang Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India 15 Februari 1835 dan mati pada 26 Mei 1906, itu matinya di kakus (WC)?”
Kemudian Dr. Hasan bin Mahmud Audah pun menjawab,”Ha…, ha…, haa… itu tidak benar. Mirza Ghulam Ahmad tidak bisa ke WC. Dia meninggal di tempat tidur. Tetapi berminggu-minggu sebelum matinya dia berak dan kencing di situ. Jadi tempat tidurnya sangat kotor seperti WC. Karena sakitnya itu, sampai-sampai dalam sehari dia kencing seratus kali. Makanya, tanyakanlah kepada orang Ahmadiyah, maukah kamu mati seperti nabimu?”
Dr Hasan bin Mahmud Audah adalah mantan Muballigh Ahmadiyah dulunya dekat dengan Thahir Ahmad (Khalifah Ahmadiyah) yang mukim di London. Pertanyaan di atas diajukan Hartono Ahmad Jaiz seusai berlangsungnya Seminar Nasional tentang Kesesatan Ahmadiyah dan Bahayanya yang diselenggarakan LPPI di Masjid Istiqlal Jakarta, Ahad 11 Agustus 2002.
Selain masalah kematiannya yang menjijikkan, Mirza Ghulam Ahmad menurut Audah punya dua penyakit: jasmani dan akal. Sakit jasmaninya sudah jelas, berminggu-minggu menjelang matinya tak bisa beranjak dari tempat tidur, hingga kencing dan berak di tempat tidurnya.
Adapun sakit akalnya, Mirza Ghulam Ahmad mengaku menjadi Maryam, lalu karena Allah meniupkan ruh kepadanya, maka lahirlah Nabi Isa. Dan yang dimaksud dengan Nabi Isa itu tak lain adalah diri Mirza Ghulam Ahmad itu sendiri. “Apakah tidak sakit akal itu namanya,” ujar Dr Hasan Audah yang dulunya mempercayai Mirza Ghulam Ahmad, sehingga sempat membeli sertifikatkuburan surga di Rabwa. (more…)
Filed under: Kepecintaalaman
1. Everest, pegunungan Himalaya, Nepal/Tibet, 29,035 ft / 8,850 m.
2. K2 (Godwin Austen), pegunungan Karakoram, Pakistan/China, 28,250 ft / 8,611 m.
3. Kangchenjunga, pegunungan Himalaya, India/Nepal, 28,169 ft / 8,586 m.
4. Lhotse I, pegunungan Himalaya, Nepal/Tibet, 27,940 ft / 8,516 m.
5. Makalu I, pegunungan Himalaya, Nepal/Tibet, 27,766 ft / 8,463 m.
6. Cho Oyu, pegunungan Himalaya, Nepal/Tibet, 26,906 ft / 8,201 m.
7. Dhaulagiri, pegunungan Himalaya, Nepal, 26,795 ft / 8,167 m.
8. Manaslu I, pegunungan Himalaya, Nepal, 26,781 ft / 8,163 m.
9. Nanga Parbat, pegunungan Himalaya, Pakistan, 26,660 ft / 8,125 m.
10. Annapurna, pegunungan Himalaya, Nepal, 26,545 ft / 8,091 m.
11. Gasherbrum I, pegunungan Karakoram, Pakistan/China, 26,470 ft / 8,068 m.
12. Puncak Broad, pegunungan Karakoram, Pakistan/China, 26,400 ft / 8,047 m.
13. Gasherbrum II, pegunungan Karakoram, Pakistan/China, 26,360 ft / 8,035 m.
14. Shishapangma (Gosainthan), pegunungan Himalaya, Tibet, 26,289 ft / 8,013 m.
15. Annapurna II, pegunungan Himalaya, Nepal, 26,041 ft / 7,937 m. (more…)
Filed under: Lingkungan Hidup
Perusahaan telekomunikasi dunia, AT&T, kini sedang mempersiapkan dokter jarak jauh (telemedicine) khusus untuk memantau para pendaki gunung Himalaya. Telemedicine ini menggunakan fasilitas ISDN (Integrated Services Digital Network) yang menghubungkan puncak-puncak bersalju Himalaya dengan Amerika Serikat sebagai pusat pemantau. Lima pendaki yang berusia antara 32 sampai 44 tahun akan dimonitor terus kondisi kesehatan mereka, lewat alat monitor status kesehatan dan kamera yang dipasang di tiap kepala pendaki.
Alat monitor ini akan mengirimkan data kesehatan dan posisi terakhir secara terus-menerus, sementara kamera memperlihatkan keadaan setempat ke base camp. ISDN akan mengirimkan status kebugaran, daya tahan, dan karakteristik fisik pendaki, seperti detak jantung, pernapasan, aliran darah, dan data lainnya.
Monitoring ini diperlukan khusus untuk mengetahui kondisi pendaki pada alam yang ekstrem seperti pada ketinggian sekitar delapan kilometer yang dijadwalkan akan berlangsung akhir bulan ini. Data itu dari base camp di ketinggian 18.000 kaki (sekitar enam kilometer dari permukaan laut) dipancarkan ke satelit Inmarsat di atas Lautan Hindia yang lalu mengirimkannya ke stasiun bumi Malaysia. Dari Malaysia data dan gambar dikirim lewat kabel laut ke Global ISDN di Santa Paula, California, yang lalu ditransfer ke Video Conference Bridge Denver, Connecticut. Dari sini, data langsung dikirim ke Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dan Universitas Yale.
Menurut Rick Roscitt, Dirut dan CEO (Chief Excecutive Officer) AT&T Solutions, satu manfaat penting dari hubungan telemedicine ini adalah dimungkinkannya pemakaian langsung teknologi alat-alat kesehatan untuk penanganan kesehatan di seluruh dunia. Data kesehatan para pendaki nanti bisa dimonitor di seluruh dunia lewat jaringan internet melalui situs i http://www.everest.org. AT&T sendiri sudah berpengalaman menyelenggarakan pengobatan jarak jauh dengan menggunakan ISDN dan ATM (Asynchronous Transfer Mode) antara beberapa rumah sakit yang berjauhan, menyiapkan konferensi lewat video dan transfer data. (hw)
Dikutip dari: Kompast News Yan WK Gappala14
E-mail Pengirim: redaksi@kompas.com


